My Favorites
All about my favorite things

Happy Valentine

Labels:
14 tahun lalu, thn 1995, ice cream Walls dan sebuah radio swasta di Denpasar (sekarang radio swasta itu sudah diambil alih RRI) mengadakan lomba menulis cerita bertemakan kasih sayang untuk menyambut Hari Valentine. Entah bagaimana, kisah ini mengalir begitu saja. Dulu..duluuu..sekali...  Kami masih bisa dibilang keluarga dari kelas menengah ke  bawah. Rumah kecil dengan sebagian lantai masih dari tanah,  kalau hujan bocor. Saya masih ingat Ibu paling repot kalau  musim hujan. Ngepel lantai yang bocor, menjaga kami yang  masih kecil-kecil supaya tidak main lumpur di dalam rumah,  wah pokoke repot. Tapi kami bahagia kok.  Saya punya satu kakak cowok dan satu adik cewek. Mas  sayang banget ke kami adik-adiknya. Walau tentu saja, namanya  juga anak kecil, masih suka berantem juga kadang-kadang. Mas  sering mengumpulkan barang bekas. Sandal jepit, panci bolong,  ember rombeng, atau apa saja. Kalau ada tukang jualan mainan  lewat, Mas menukar barang bekas itu dengan jepit rambut untuk  saya, atau boneka plastik untuk Adik. Waktu itu masih boleh.  Sekarang, mana ada sistem barter kaya' gitu. Kami hanya bisa  melakukan barter seperti itu, karena Bapak Ibu tidak pernah  punya cukup uang untuk memberi kami uang jajan. Karena itu,  kami yang harus kreatif. Kadang-kadang saya dan Adik ke pasar  menjual bunga untuk banten (sesajen), sekedar supaya bisa beli es  lilin. Ibu juga suka menitipkan beberapa ikat seledri, yang  kami tanam di pot-pot sekitar rumah, untuk ditukar dengan  bumbu dapur. Malah saking kreatifnya, Adik pernah 'menanam'  garam dan terasi, supaya Ibu tidak perlu beli lagi. Tinggal  'petik'.  Dan setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, kami antri  di meja makan, untuk mendapat 'ransum' pasta gigi. Biasanya  Bapak yang membagi. Hal itu perlu kami lakukan, supaya satu  tube cukup untuk satu bulan. Walaupun sudah diransum begitu,  kadang pada akhir bulan kami masih saja kekurangan pasta  gigi. Bapak sampai harus mengerok tubenya, supaya pastanya  keluar. Kadang malah sampai membedah tubenya. Pokoke tidak  ada yang tersisa. Kebiasaan itu saya bawa sampai sekarang.  Kalau belum tipis banget, sayang rasanya membuang tube pasta  giginya.  Pada masa itu, TV masih merupakan barang yang wah. Untuk  bisa menonton film kartun di TV (waktu itu Woody Woodspeaker  kalau tidak salah), Mas dan saya harus mengerjakan PR kami  dulu. Selain itu, Bapak menambah tes perkalian untuk kami.  Dalam satu kotak, Bapak menyiapkan gulungan kertas kecil  berisi perkalian satu sampai sepuluh. Kami harus mengambil  lima gulung. Kalau tidak bisa menjawab, harus mengulang lagi.  Demikian seterusnya, sampai berhasil menjawab lima perkalian.  Yang di tes hanya Mas dan saya, karena kami sudah SD,  sedangkan adik tidak, karena masih TK. Tapi Adik juga harus  menunggu hasil tes kami, untuk dapat pergi nonton TV bersama- sama. Kalau sudah selesai, kami boleh nonton TV di keca- matan, diantar Oom (adik Bapak). Karena jengkel harus  menjawab tes perkalian itu, saya minta Bapak untuk beli TV.  Bapak bilang harganya mahal. Seratus ribu. Saya bilang, "Saya  punya tabungan. Bapak seribu-nya, saya seratusnya."  He..he..bodo, ya.  Dan kalau Bapak lagi dapat rejeki, Bapak mengajukan  pilihan, ikut Bapak Ibu ke pasar, atau mau nonton TV ? Wah  ini pilihan sulit. Tapi kami lebih sering pilih ikut Bapak,  karena di pasar kami bisa minum angsle, dan boleh minta  mainan.  Pada masa liburan, kalau sedang tidak ada acara, Bapak  Ibu mengajak kami 'rekaman'. Kami akan menyanyi bersama, yang  oleh Bapak direkam ke dalam tape. Sampai sekarang beberapa  kaset rekaman itu masih ada. Suka geli kalau mendengarnya  lagi. Selain itu, kami juga sering ke pantai. Naik kendaraan  roda dua, berlima ! Wisata yang murah meriah.  Saat ini, hal-hal seperti itu tidak perlu lagi kami  alami. Mau nonton TV atau Video, tinggal pencet tombol. Mau  nonton di 21, tinggal buka dompet. Mau ngabur ke Bedugul, ada  kendaraan. Mau shooping, tidak perlu tunggu Bapak dapat  rejeki. Belanja garam terasi pun boleh di supermarket. Tapi  kenangan dua puluh tahun yang lalu tidak akan pernah terlupa kan. Saya ingin seperti Bapak dan Ibu. Memulai semuanya dari  nol, untuk kemudian menanjak sedikit demi sedikit. Bagus  untuk pendidikan mental.  HAPPY VALENTINE....
0 comments:

Mau tahu bisnis saya? Isi formnya ya...

Nama:
Email:
Telp:
Dari mana anda mendengar tentang website ini?

My Business

Photobucket

Langsing Sehat

Photobucket
Follow kadekherda on Twitter

My Bisnis

herda

Sambil ngantor

Photobucket

Cari disini saja


Love ticking... :-P

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Pariwara

Awan-awan...

My Job

Photobucket

Bacaan T.O.P

income